Hari itu langit cerah, tetapi angin bertiup kencang, membawa hawa dingin yang meresap ke tulang. Perkampungan Suku Uksa dan Raksa sibuk dengan berbagai kegiatan, mulai dari persiapan bekal hingga memperkuat peralatan untuk perjalanan ke barat. Namun, suasana sedikit tegang karena ancaman dari Monrest yang semakin nyata. Ayah Marni telah memberi tahu mereka mengenai rencana suku Monrest untuk mengadakan ritual pengorbanan lagi. Mereka sudah merasakan ketika suku Monrest mengadakan ritual, banyak orang-orang dari suku mereka di tangkap dan di korbankan, dan kini hal tersebut akan terulang lagi dengan ritual yang lebih besar.
Di tepi perkampungan, Kanha berdiri sambil mengamati hutan di seberang. Dia mendengar suara ranting patah dan gerakan di semak-semak. Kanha langsung menggenggam tombaknya dengan hati-hati, melangkah mendekati sumber suara.
“Hei! Siapa di sana?!” serunya.
Dari balik semak-semak, muncul sosok yang dikenalnya. Seorang pria yang terlihat memiliki fisik biasa dibandingkan para penduduk lainnya dengan kulit terlihat lebih halus dari kulit wanita, rambutnya terlihat panjang berantakan, namun sorot matanya tajam seperti elang. Lynx melangkah keluar dengan senyum tipis, meski terlihat lelah.
“Kanha,” sapa Lynx dengan nada rendah. “Akhirnya aku menemukan kalian.”
Kanha melompat ke arahnya dengan ekspresi campuran antara senang dan jahil. “Lynx! Aku pikir kau tersesat di suatu tempat. Kau terlambat!”
Lynx mengangguk sambil mengusap lehernya. “Aku memang tersesat. Tempat ini sulit ditemukan. Aku harus berusaha mencari titik lokasi yang diceritakan Narendra saat perjalanan kita dulu. Ternyata tidak mudah.”
Kanha tertawa kecil. “Tentu saja sulit! Agar tempat ini tidak dapat dengan mudah di temukan.”
Lynx hanya mengangguk, lalu menepuk bahu Kanha. “Bawa aku ke perkampungan. Aku punya banyak hal yang perlu aku sampaikan.”
Suku Uksa, Raksa, dan para pendatang dari rombongan sebelumnya berkumpul untuk menyambutnya. Mereka yang menyambut Lynx merasa gembira melihat kedatangan sosok Lynx yang sudah mereka nantikan. Marni, yang sudah lama ingin mengucapkan terima kasih secara langsung, berdiri di barisan depan, disampingnya terlihat sosok Rara yang diam-diam merindukannya.
“Lynx!” seru Marni, suaranya bergetar antara gembira dan terharu. Dia berlari kecil menghampirinya sambil menggendong anaknya. “Terima kasih… kau menyelamatkan nyawa keluargaku. Kami tidak akan pernah melupakan jasamu.”
Lynx tersenyum kecil. “Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Marni. Kau tidak perlu berterima kasih.”
Widhi, Raka, Arkha, dan Narendra menghampirinya. Widhi menjabat tangan Lynx dengan erat. “Kau datang tepat waktu. Kami semua menunggumu untuk memutuskan langkah selanjutnya.”
“Aku minta maaf karena terlambat,” kata Lynx. “Aku harus menyelesaikan beberapa masalah dan juga kesulitan menemukan tempat ini. Untung saja titik yang disebutkan Narendra bisa aku temukan.”
"Kami sudah mendengarnya dari Marni dan ayahnya. Tentang kamu yang menyelamatkan mereka dan berusaha menolong orang-orang lain yang di tangkap para perampok untuk diserahkan ke Monrest." Kata Widhi, kepala suku Uksa.
"Kamu benar-benar orang yang sangat baik, Lynx." kata Arkha yang kagum dengan sifat dan kepedulian Lynx untuk membantu siapa saja yang kesulitan.
Lynx lalu menoleh ke Widhi dan berkata, “Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Bisakah kita berkumpul bersama para pemimpin?”
"Baiklah, kita bisa ke tempat pertemuan, yang kami gunakan untuk berkumpul dengan para tetua jika ada permasalahan." Kata Widhi sambil memimpin jalan.
Di tempat pertemuan, Lynx duduk di tengah bersama Widhi, Raka, Arkha, Narendra, Rara, dan para tetua. Udara terasa tegang, semua menunggu Lynx bicara.
“Aku sudah menghancurkan perkampungan perampok,” kata Lynx membuka pembicaraan. “Tahanan yang mereka tangkap sudah kubebaskan, termasuk beberapa anggota suku Raksa dan Yaksa.”
Raka mengangguk kecil, wajahnya menunjukkan rasa lega. “Terima kasih, Lynx. Kau benar-benar telah membuktikan keberanianmu.”
“Berapa banyak tahanan yang kau bebaskan?” tanya Widhi.
“Cukup banyak,” jawab Lynx. “Suku Yaksa juga akan bergabung dengan kita, begitu juga anggota Suku Raksa yang terpecah.”
Narendra menyela, “Suku Yaksa? Itu kabar baik. Mereka ahli di sungai dan petarung air yang hebat.”
Lynx tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu yang disembunyikannya. Dalam hatinya, dia berpikir, "Biarlah mereka tahu sendiri tentang pengkhianatan itu."
Ketika Lynx menyebut nama Darek, mata Arkha langsung berbinar dan bertanya beberapa pertanyaan sekaligus dengan semangat. “Darek?! Kamu bertemu dengannya? Apakah dia juga di tangkap?Apakah dia selamat?!”
Lynx mengangguk. “Ya, Darek baik-baik saja. Dia bersama Ekar dan Rafin membantuku menyelamatkan para tahanan. Mereka juga akan segera menyusul ke sini.”
Arkha terlihat gembira, namun kebahagiaannya hanya bertahan sejenak. Lynx menunduk dan berkata pelan, “Tapi aku gagal menyelamatkan Alana.”
Kata-kata itu menghantam Arkha seperti petir. Dia terdiam beberapa detik sebelum tiba-tiba berdiri. “Apa? Alana?” suaranya bergetar. “Kau… gagal?”
Lynx menundukkan kepala. “Alana ditangkap, aku menemukannya di kampung perampok, Arkha. Tapi… aku gagal menyelamatkannya. Kami ketahuan dan Alana terkena salah satu panah saat aku berusaha membawanya keluar dari tempat itu.”
Arkha teriak frustrasi, wajahnya dipenuhi amarah dan kesedihan. “TIDAK!” Dia menjatuhkan tombaknya ke tanah dan berbalik, menutup wajahnya dengan tangan. Tubuhnya bergetar, dan suara isak tangisnya terdengar lirih.
Narendra menepuk bahu Arkha, tetapi Arkha hanya menggelengkan kepala. “Dia calon istriku,” katanya pelan, hampir berbisik.
Lynx dan yang lainnya saling bertukar pandang, bingung. Raka akhirnya menjelaskan. “Alana adalah calon istri Arkha. Sebelum Suku Raksa pecah, seluruh suku menyaksikan perjodohan mereka. Tapi karena perpecahan, mereka kehilangan kabar satu sama lain.”
Rara mengangguk pelan. “Sekarang aku mengerti. Itu sebabnya Arkha ingin menjadi kepala suku, agar dia bisa mencari Alana.”
Arkha berbalik, matanya merah karena menangis. “Terima kasih, Lynx,” katanya dengan suara serak. “Aku tahu kau sudah berusaha. Tapi aku bersumpah… aku akan membalas dendam kepada Monrest dan para perampok. Mereka akan membayar semua yang telah mereka lakukan.”
Rara, yang duduk di sebelah ayahnya, berkata lembut, “Alana pasti ingin kau tetap kuat, Arkha. Jangan menyerah.”
Arkha mengangguk kecil, berusaha mengendalikan emosinya."Ayahku berjanji akan membantu mencari Alana jika aku menang dan menyerahkannya ke Banu. Aku tidak masalah siapa yang memimpin, yang terpenting bisa menemukan Alana. Tapi sekarang..." Arkha tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Semua orang terdiam, merasakan kesedihan dan tekad Arkha. Narendra mencoba menghiburnya. “Kita semua bersamamu, Arkha. Kita akan membalas semua kejahatan yang sudah dilakukan suku Monrest.”
Setelah suasana sedikit mereda, Lynx melanjutkan. “Aku harus segera ke barat. Aku merasa seseorang yang penting bagiku di Suku Sinto sedang dalam bahaya.”
Widhi bertanya, “Apakah itu berarti kami juga harus segera bergerak?”
“Ya,” jawab Lynx. “Setelah Suku Yaksa tiba, kalian harus segera berangkat. Jangan buang waktu.”
Narendra bertanya, “Kapan kau akan berangkat, Lynx?”
“Setelah ini,” jawab Lynx dengan tegas. “Aku harus memastikan mereka tidak sendirian menghadapi ancaman.”
"Bisakah aku ikut denganmu." Rara memberanikan diri berbicara.
Lynx menggelengkan kepalanya."Aku harus segera tiba disana. Aku harus pergi sendirian. Selain itu aku juga harus memastikan di barat tetap aman untuk kalian bergabung."
"Rara, Lynx benar. Kamu bisa menemuinya lagi nanti di barat. Sekarang kamu harus fokus untuk melindungi semua para suku terutama para wanita dan anak-anak agar bisa melakukan perjalanan dengan lancar." Kata Raka yang memahami isi hati anaknya.
Rara hanya bisa menganggukkan kepala menahan kecewanya."Kamu harus hati-hati Lynx. Kami akan segera menyusulmu."
Lynx lalu berdiri dan berpamitan. “Aku sudah memberi arah jalur aman menuju barat. Ikuti itu, dan kalian akan sampai di Suku Sinto tanpa masalah.”
Widhi menjabat tangannya. “Terima kasih, Lynx. Kami semua berutang padamu.”
Raka menunduk hormat. “Kau membawa harapan bagi kami semua.”
Lynx tersenyum kecil sebelum melangkah pergi. Semua orang melihatnya menghilang ke dalam hutan, menuju barat dengan langkah mantap.
Di belakangnya, Arkha mengepalkan tangan, bertekad untuk balas dendam untuk Alana dan membalas semua kejahatan yang telah dilakukan Monrest. Perjalanan mereka menuju barat baru akan dimulai, dengan harapan dan dendam yang membara di hati masing-masing.
